CINTA TETAP BERTAHAN

 

Saat aku baru memasuki jenjang perguruan tinggi, tepatnya ketika  menjalani masa orientasi atau yang lebih dikenal dengan nama OSPEK, aku, Adlan Pribadi, melihat  dengan tatapan mata yang terang ke arah barisan calon mahasiswi dengan jurusan yang sama yang begitu panjang dengan gugup mereka mencoba membaur satu sama lainnya,tatapan ku terhempas saat aku melihat terduduk seorang mahasiswi yang berparas cantik jelita nan merona di sekitar wajahnya.ingin rasanya mengetahui dan bertanya siapakah gerangan nama mahasiswi itu?.

 Namun aku masih terpaku merasa malu serta canggung seakaan tubuhku ini tak bergerak dan tidak sanggup untuk sekedar mendekatinya apalagi sampai menyapanya bibir terasa kaku dan bungkam.

Hari-hari mulai berlalu. Aku mulai bergegas masuk ke ruang kelas  dimana terdapat banyak kursi dan sebuah meja serta kursi untuk sang pengajar atau yang dikenal dengan sebutan DOSEN.

Aku pun mulai menjalani hari ku yang baru menjalani proses kegiatan belajar di universitas.hari demi hari aku menjalaninya,dan kini aku mulai mengenal semua sahabat di universitas ku.

Tatapan ku mulai dipenuhi bayangan seakan diri ini terbawa kedalam lautan mimpi aku mulai mendambakan wanita-wanita cantik dikampusku menjadi pujaan hati ku.

Di saat itu pula aku mulai menyukai beberapa dari mereka. Aku membayangkan mereka ada disisiku

“hah senangnya andai saja itu nyata”

Aku menahan rasa, karena yang aku dambakan hanyalah seseorang yang memenuhi benakku itu.

Suatu hari aku  baru menyadari ternyata aku sekelas dengan wanita yang menarik perhatian ku waktu itu,di pertengahan waktu proses belajar, aku semakin tertarik padanya. Tatapan matanya seakan mengalihkan perahtian ku penampilannya yang membius hati ku dan sifat-sifatnya yang lemah gemulai membuat aku ingin segera mengucapkan sepatah dua patah kata kepada dirinya, tetapi aku tetap saja diam menyimpan rasa dihati ku dalam-dalam,jantungku berdetak sangat kencang ketika aku melihatnya juga ketika aku memperhatikan gerak-geriknya

Wajahnya,serta tatapan matanya membuatku tak mampu untuk menahan hasrat yang mendalam untuk memilikinya.

“Hah aku sungguh tak kuasa tak tahan menahan rasa ini”. Aku menghela nafas dan kembali menghembuskannya ketika aku menyadari aku harus berbuat sesuatu

***

Hingga suatu hari,aku pun mengetahui bahwa wanita yang aku sukai selama ini bernama Aprilia.

Aku mencoba berteman dan  Saat-saat aku masih bersahabat dengannya, entah aku tidak tahu mengapa aku merasa nyaman berada di sisinya. aku hanya belum bisa memutuskan apakah aku jatuh cinta kepadanya atau tidak. Di saat itu pula aku mulai melihat sahabat-sahabatku menjadi pasangan. Tepatnya 3 pasang kekasih.

 

Hari-hari terus berlalu. Aku terus menerus memperhatikannya. Setiap hari, dia datang ke kampus dan pulang dari kampus bersama ketiga sahabatnya, yaitu Aprita, Andini, dan Nova.

Beberapa hari kemudian tepatnya menjelang ujian tengah semester, Akhirnya aku memutuskan untuk berbincang-bincang kepada salah satu sahabatku yang bernama Asri.

“ Asri, betapa cantikya wanita itu, sifatnya yang lemah lembut serta penampilannya yang anggun membuatku menyukai dirinya.” Kataku.

Asri pun bertanya, “ memangnya kenapa?, apa yang bisa aku bantu?”

Aku pun menyampaikan perasaanku pada Iin ke Asri. Asri pun mengerti. “ Aku jatuh cinta pada Iin, aku minta tolong ya, aku minta nomor ponselnya, lalu kamu bertanya kepada Iin criteria lelaki  seperti apa yang ia sukai.” Pintaku pada Asri.

“ Baiklah, ini aku kasih nomor ponselnya terlebih dahulu, nanti aku tanyakan padanya, ok.” Kata Asri. Aku menjawab “ ok deh Asriii”.

Waktu demi Waktu berlalu, aku menunggu kabar dari Asri mengenai Iin. Setelah aku berada di kampus pada Hari berikutnya, datanglah kabar dari Asri mengenai Iin.

“ Adlan, Aku sudah dapat info dari Iin secara langsung loh.” Kata Asri

 

Aku bertanya “ apa itu?”.

Dengan suara yang lembut Asri pun menjelaskan, “ ternyata, Iin menyukai lelaki yang baik hati, perhatian dan rajin beribadah.”

“ ooh begituuu. Ya sudah, mulai nanti malam, aku akan terus menemaninya walaupun hanya melalui pesan singkat di dalam ponselku sendiri.” Jawabku.

Asri menyambung “ciee cieee, Adlaaan.” Seraya tersenyum melihatku.

“ Aaah, bisa saja kamu ini,hehehehe.” Aku menjawab dengan perasaan agak malu.

Setelah sekian lama berbincang-bincang dengan Asri, aku pun beranjak berpaling dari muka Asri. Aku berfikir panjang bagaimana cara mengambil hati Iin. Aku memutuskan untuk berkomunikasi dengannya melalui ponselku saja.

Sepanjang hari aku menyentuhkan jemariku di atas tombol-tombol angka dan abjad pada ponselku. Sedari pagi hari hingga malam, aku terus berkomuikasi dengannya. Aku ucapkan selamat malam dan selamat tidur untuknya.

Keesokan harinya, aku kembali berkomunikasi dengan Iin. Sampai suatu ketika ditengah-tengah saat berkomunikasi, aku menyatakan bahwa aku sayang dan cinta padanya

Iin langsung menerimaku dan menyatakan bahwa ia juga sayang dan padaku. Akhirnya kita menjalani relationship yang artinya adalah berpacaran.

Saat aku dan Iin bertemu, Aku masih merasa Grogi untuk mendekatinya. Aku malu dan ada pula rasa takut di hatiku.

“Hai sayang.” Sapaku. Lalu Iin pun menjawab; “hai juga, ada apa sayang?” . Karena aku masih kaku dan tidak berani, aku pun masih ragu-ragu untuk berbicara dengannya. Aku terbata-bata saat berbincang-bincang dengan Iin. Aku masih agak cuek.

Sepertinya Iin memang masih belum Ihklas dari dalam lubuk hati yang paling dalam. Ia seringkali terlihat murung dan sedih. Aku menjadi tidak tega melihatnya.

Suatu hari, Iin berkata padaku “ apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?”

“Apa itu sayang?” tanyaku. “ Aku minta seekor kucing abu-abu yaa.” Pinta Iin padaku.

“ kapan aku harus memberikan kucing itu padamu?” aku bertanya kembali. Lalu Iin menjawab dengan manisnya; “ Kapan saja boleh kok, asal kamu bisa mendapatkannya.”

 Hari demi hari semakin berlalu. Aku belum juga mendapatkan seekor kucing abu-abu. Aku terus berfikir harus bagaimana untuk mendapatkan seekor kucing itu.

Sudah satu bulan waktu berlampau. Aku tetap saja tidak memperoleh kucing itu. Iin segera meminta janjiku tersebut. Karena aku belum mendapatkannya, Ia kesal dan marah padaku. Aku mencoba untuk merayunya dan membujuknya supaya tidak marah, tetapi tidak membuahkan hasil.

Waktu demi waktu terus berjalan. Perlahan-lahan rasa amarah yang ada di dalam dirinya mulai reda. Ia memutuskan untuk menghentikan permintannya.

“Ya sudah lah, aku tidak jadi meminta seekor kucing, tak apalah.” Iin berkata.

Aku menjawab,” Ya oke lah, aku tidak apa-apa.”

Pada hari hari berikutnya, saat aku dan Iin belum bertemu, di kampus aku bercanda-canda dan berbicara satu sama lain dengan beberapa sahabatku, yaitu Sahra, Suci, Fernandes, Nelda, dan sahabat-sahabatku yang lainnya.

Di tengah pembicaraan, Suci menghadap ke arahku dan mengatakan “ dlan, kemarin Iin mengeluh padaku dan pada Nelda, bahwa Ia memiliki seorang kekasih tetapi seperti tidak punya kekasih, oleh karena itu, kamu harus lebih memperhatikan dia dan lebih mendekatinya.”. “ Iya ci, aku juga sudah berusaha, yah meskipun hasilnya sedikit demi sedikit, lama kelamaan menjadi berhasil sepenuhnya kok.”

Saat pulang dari kampus, aku hanya mengantarkan sampai mulut gang dimana tempat dia berdiam untuk sementara atau ngekost, lalu aku segera pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba sahabatku, Nova mengirimkanku pesan melalui ponselku. Aku segera membukanya dan ternyata berisikan: Adlan, kunci kost Iin hilang.

Aku langsung membalasnya. Sesampainya di rumah, ponselku berdering dan aku menjawabnya. “ hallo, ini dari siapa?”

“ Dlan, ini pine, laptop milik Iin ikut hilang,” kata pine. Aku menjawab “ ya ampun, kok bisa sih?” .” Ya sudah kamu datanglah ke kost Iin, aku dan sahabat-sahabat yang lain menunggu di sini” ujar Pine.

Aku bergegas menuju ke kost Iin. Beberapa menit kemudian, sampailah aku di kost Iin. Aku langsung di ajaknya masuk ke dalam dan menemuinya. Di kamar kost, ternyata Iin sedang tergeletak tak berdaya. Ia sangat sedih karena kehilangan laptop miliknya. Aku berusaha menghiburnya.

Waktu demi waktu berjalan. Hari mulai gelap. Aku berbicara pada Iin sejenak. “ Sayang, sabar yaa, nanti kalau rezeki datang menghampirimu, pasti kamu akan mendapatkannya lagi.” Ucapku dengan nada pelan. Iin menjawab,” Iya, aku mengerti sayang, aku ucapkan banyak terima kasih atas kedatanganmu dan sahabat-sahabat yang lainnya.”

Aku segera berpaling dari tempat kost Iin. Ia ditemani oleh salah satu sahabat , yaitu Andin.

Keesokan harinya, aku mulai memberanikan diri untuk mendekatinya. Aku berbincang-bincang dengan Iin walau hanya sedikit kata-kata. Rupanya ia mulau menyadari bahwa sifatku yang selama ini tidak menyenangkan akhirnya berubah.

Iin mulai bisa menerimaku apa adanya dan Ia tidak akan meninggalkan aku. Begitu juga aku.

Sejak saat itulah hubungan aku dengan Iin mengarah ke jenjang keakuran. Tetapi kadangkala masih terjadi hal-hal yang tidak meyenangkan.

Sampai Saat Ini, aku dan Iin hidup denngan rukun dan damai. Kami saling mencintai dan menyayangi. Aku bersyukur hubunganku dan Iin menjadi cinta yang tetap bertahan hingga kini dan masa depan.

 

 

~ oleh adlanpribadi pada Juni 17, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: